Indah yang Menyesatkan
Narasi ini
adalah catatan kecil untuk siapa pun yang masih berusaha jujur, di tengah zaman
yang memuliakan tipu daya.
Karena kejujuran tak selalu tampak
gemilang. Tapi ia selalu punya tempat di sisi Tuhan.
Kisah tentang sesuatu yang tampak indah, tapi menghancurkan. Tentang jalan yang berlampu terang, tapi menuju jurang yang dalam. Tentang tawaran yang menggiurkan, tapi diam-diam merenggut hatimu.
Di hari ini, kita hidup dalam dunia yang memoles kejahatan menjadi prestasi. Dunia yang bisa membungkus keserakahan dalam istilah "ambisi", menyulap kebohongan jadi "strategi", dan menjual kesombongan sebagai "percaya diri".
Dunia yang membuat kita sulit membedakan: mana yang benar-benar baik, dan mana yang hanya tampak baik.
“Ia berkata,
‘Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan aku sesat, pasti aku akan jadikan
kejahatan itu terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka
semuanya.’”
(QS. Al-Hijr: 39)
Inilah janji Iblis. Bukan sekadar menjerumuskan dengan keburukan, tapi mempercantik dosa agar tampak seperti pahala. Membuat maksiat terasa manis. Membuat kita tersenyum saat melanggar, dan merasa modern ketika menjauh dari petunjuk.
Maka jangan heran, jika hari ini kita melihat banyak yang berjalan cepat, tapi menuju tempat yang salah. Banyak yang sibuk membangun citra, tapi kehilangan jiwa. Banyak yang tampil cerdas, tapi memilih jalan licik.
Karena godaan Iblis bukan sekadar pada tindakan, tapi pada persepsi. Ia tidak datang dengan tanduk, tapi dengan likes, sorotan kamera, dan gelar kehormatan. Ia tidak selalu datang untuk membuatmu jahat. Kadang ia hanya ingin kamu tidak lagi peduli.
“Kecuali
hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”
(QS. Al-Hijr: 40)
Selalu ada yang bertahan. Di balik gemerlap yang penuh tipu, masih ada yang memilih diam. Masih ada yang memilih jujur, walau tak viral. Masih ada yang menolak suap, meski hidupnya menjadi sulit. Masih ada yang mencintai kebenaran, meski harus berjalan sendirian.
Mereka ini, yang disebut "hamba-hamba pilihan". Mereka bukan malaikat. Mereka juga bisa jatuh. Tapi mereka selalu kembali. Mereka bisa salah, tapi tidak berpihak pada keburukan.
Dan kadang, mereka tidak berada di atas panggung. Mereka bukan selebritas. Mereka ibu rumah tangga yang menolak mengambil hak orang lain. Mereka buruh yang menolak menipu timbangan. Mereka pelajar yang tidak mencontek meski seluruh kelas melakukannya.
Mereka tidak sempurna. Tapi mereka tahu kapan harus menolak meski semua orang menerima. Mereka tahu bahwa tidak semua yang indah itu benar. Dan tidak semua yang benar akan tampak indah.
Mereka hidup bukan untuk dilihat manusia. Tapi untuk dilihat Tuhan.
Mereka tahu bahwa dunia ini memang ladang ujian. Bahwa ada kekuatan yang terus-menerus menjadikan keburukan tampak bersinar. Tapi mereka tidak silau. Karena mereka punya cahaya lain—yang tumbuh bukan dari dunia, tapi dari dalam dada.
Mereka ini... mungkin tak dikenal banyak orang. Tapi dikenal oleh langit.
Dan di hari di mana semua cahaya padam, merekalah yang masih menyala.


